Kesalahan umum dalam penulisan jurnal ilmiah sering kali menjadi momok bagi mahasiswa, peneliti pemula, dan bahkan dosen yang sedang memulai karier publikasi. Banyak yang mengira menulis jurnal hanya soal menyusun data dan paragraf, padahal prosesnya lebih kompleks dan penuh aturan.
Artikel ini mengajak kamu memahami kesalahan yang paling sering terjadi, alasannya, serta bagaimana cara mengatasinya. Dengan pendekatan bersahabat dan dialogis, kamu akan lebih mudah menyerap informasi dan langsung bisa menerapkannya pada penelitianmu.
Mengapa Mengetahui Kesalahan Penulisan itu Penting?
Pernahkah kamu mengalami frustrasi karena artikel ditolak jurnal? Atau menemukan publikasi yang tampak rapi tapi kualitasnya kurang? Mayoritas penolakan jurnal tidak terjadi karena ide buruk, melainkan karena kesalahan teknis dan etika penulisan.
Memahami kesalahan umum ini tidak hanya meningkatkan peluang diterima di jurnal bereputasi, tetapi juga membantu kamu menulis artikel yang lebih sistematis, kredibel, dan berpengaruh dalam komunitas akademik.
1. Tidak Mengikuti Template atau Pedoman Jurnal
Setiap jurnal memiliki pedoman penulisan yang spesifik—mulai dari format teks, panjang abstrak, urutan bagian artikel, hingga gaya referensi. Kesalahan umum adalah penulis mengabaikan pedoman ini, sehingga artikel sering ditolak sebelum masuk ke tahap review.
Misalnya, Jurnal Pendidikan Indonesia memiliki format abstrak 150-200 kata, sedangkan Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora menetapkan 250 kata. Mengikuti template sejak awal menulis akan mempermudah proses editing dan review.
Tip praktis: Unduh template jurnal yang dituju dan gunakan sebagai kerangka saat menyusun artikel. Ini meminimalkan kesalahan format dan meningkatkan peluang diterima.
2. Kurangnya Kebaruan (Novelty) Penelitian
Reviewer mencari kontribusi baru dalam ilmu pengetahuan. Artikel yang hanya mengulang penelitian terdahulu tanpa adanya gap penelitian yang jelas akan dianggap tidak relevan. Ini salah satu penyebab utama penolakan di jurnal bereputasi.
Untuk menghindari kesalahan ini, sebelum menulis lakukan literature review mendalam. Identifikasi celah penelitian, pertanyaan yang belum terjawab, atau pendekatan baru yang bisa kamu tawarkan.
Contoh: Penelitian tentang pembelajaran berbasis proyek di sekolah dasar sebaiknya menunjukkan inovasi, misalnya metode blended learning atau integrasi teknologi AI, bukan sekadar mengulang studi lama.
3. Struktur Artikel yang Tidak Jelas
Artikel ilmiah harus mengikuti alur logis: judul → abstrak → pendahuluan → metodologi → hasil → pembahasan → kesimpulan → daftar pustaka. Kesalahan umum adalah: pendahuluan tidak membangun konteks ilmiah, tujuan penelitian tidak jelas, metodologi minim detail, atau kesimpulan tidak menjawab pertanyaan penelitian.
Struktur yang rapi mempermudah reviewer menilai kualitas penelitian. Misalnya, Jurnal Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi menekankan bahwa metodologi harus dijelaskan sedetil mungkin agar eksperimen dapat direplikasi.
4. Abstrak yang Lemah atau Tidak Utuh
Abstrak adalah “etalase” artikelmu. Kesalahan umum meliputi: abstrak terlalu panjang atau pendek, tidak mencakup tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan, atau malah menyertakan sitasi yang tidak diperkenankan.
Abstrak yang kuat memberikan gambaran jelas kepada reviewer dan pembaca tentang kontribusi artikel. Contohnya, abstrak penelitian pendidikan harus mencakup masalah yang diteliti, metode eksperimen atau survei, temuan utama, dan implikasinya.
5. Pengelolaan Referensi yang Tidak Tepat
Kesalahan referensi bisa menurunkan kredibilitas artikel. Hal ini mencakup: referensi tidak relevan atau tidak terbaru, sitasi tidak sesuai gaya jurnal, sumber tidak dapat dilacak, dan urutan nama penulis tidak konsisten.
Untuk menghindarinya, gunakan manajemen referensi seperti Mendeley, Zotero, atau EndNote, dan selalu pastikan referensi berasal dari jurnal bereputasi atau sumber yang diakui di bidangnya.
6. Kesalahan Kebahasaan dan Tata Bahasa
Bahasa akademik yang buruk bisa membuat artikel ditolak meski ide penelitian bagus. Kesalahan meliputi: ejaan tidak sesuai PUEBI, kalimat terlalu panjang atau berbelit, struktur paragraf tidak proporsional, dan penggunaan istilah teknis yang tidak konsisten.
Tip: Selalu lakukan proofreading dan minta rekan sejawat meninjau bahasa artikel sebelum submit. Bahasa yang jelas meningkatkan kepercayaan reviewer terhadap kualitas artikel.
7. Metodologi yang Tidak Jelas
Metodologi adalah tulang punggung penelitian. Kesalahan umum termasuk tidak menjelaskan proses pengumpulan data, alat atau teknik analisis yang digunakan, sampel penelitian, atau kriteria inklusi/exklusi.
Contoh: Penelitian eksperimen harus menyebutkan jumlah peserta, prosedur pengukuran, dan alat yang digunakan. Tanpa ini, artikel akan sulit dinilai validitasnya.
8. Kesimpulan yang Tidak Relevan
Kesimpulan harus mencerminkan hasil penelitian dan menjawab tujuan awal. Kesalahan umum: merangkum isi tanpa refleksi, menambahkan ide baru, atau tidak menautkan kesimpulan dengan data penelitian.
Kesimpulan yang kuat menegaskan nilai penelitian dan memberi arah bagi studi lanjutan.
9. Tidak Konsisten dalam Gaya Penulisan
Gaya penulisan meliputi penomoran tabel, grafik, sitasi, dan istilah teknis. Ketidakkonsistenan membuat artikel tampak tidak profesional dan sulit dibaca. Misalnya, satu tabel memakai angka desimal titik, tabel lain memakai koma, atau sitasi campur APA dan Vancouver.
Konsistensi penting untuk menjaga kredibilitas dan mempermudah review.
10. Pelanggaran Etika Publikasi
Kesalahan etika serius meliputi plagiarisme, klaim penulis yang tidak berkontribusi, dan tidak menyatakan konflik kepentingan. Jurnal bereputasi menolak artikel yang melanggar etika, bahkan bisa mencabut publikasi.
Selalu cantumkan sumber dengan benar, tulis kontribusi tiap penulis, dan deklarasikan konflik kepentingan jika ada.
Faktor Penyebab Kesalahan
- Kurangnya pemahaman konvensi penulisan ilmiah.
- Ketidaktahuan pedoman spesifik jurnal.
- Keterbatasan kemampuan bahasa akademik.
- Tidak melakukan editing dan proofreading secara seksama.
Memahami faktor-faktor ini membantu penulis lebih waspada dan sistematis dalam menyiapkan artikel sebelum submit.
Dampak Kesalahan Penulisan
- Penolakan artikel oleh jurnal.
- Turunnya kredibilitas penulis.
- Kurangi peluang dikutip oleh peneliti lain.
- Menurunkan kesempatan mendapatkan pendanaan atau promosi akademik.
Oleh karena itu, menghindari kesalahan teknis dan etika sangat penting untuk keberhasilan publikasi.
Kesimpulan
Kesalahan umum dalam penulisan jurnal ilmiah meliputi aspek teknis (struktur, referensi, bahasa), strategis (novelty, metodologi), dan etika (plagiarisme, kontribusi penulis). Dengan memahami dan mengantisipasi kesalahan ini, artikel yang kamu tulis akan lebih sistematis, kredibel, dan berpeluang diterima di jurnal bereputasi.
Mulailah membiasakan diri membaca pedoman jurnal, mengedit secara teliti, dan memeriksa semua aspek teknis dan etika sebelum submit. Dengan begitu, perjalanan publikasi ilmiahmu akan lebih mulus dan berdampak bagi ilmu pengetahuan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa kesalahan paling umum dalam menulis jurnal ilmiah?
Kesalahan umum termasuk struktur artikel tidak jelas, abstrak lemah, metodologi tidak rinci, referensi salah, bahasa tidak tepat, dan pelanggaran etika.
Bagaimana cara menghindari kesalahan penulisan?
Ikuti pedoman jurnal, lakukan proofreading, gunakan manajemen referensi, jelaskan metodologi dengan rinci, dan pastikan etika publikasi terpenuhi.
Mengapa plagiarisme menjadi masalah serius?
Plagiarisme merusak kredibilitas penulis dan artikel, bisa menyebabkan penolakan, atau pencabutan publikasi oleh jurnal.
Apakah semua kesalahan teknis fatal bagi publikasi?
Tergantung tingkat kesalahan; kesalahan minor biasanya bisa diperbaiki saat revisi, sedangkan kesalahan mayor seperti metodologi tidak jelas atau plagiarisme bisa menyebabkan penolakan.

Posting Komentar